Logo Loader

Dorong Pelestarian Budaya, Ismail Thomas Terima Anugerah Naga Sasra ​

KUTAI BARAT 24 Mei 2026 2 minggu yang lalu 48 kali dibaca
Blog Image
Email :

KOMINFOKUBAR- JAKARTA. Komitmen dalam menjaga kelestarian adat, tradisi, dan warisan leluhur di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Mantan Bupati Kutai Barat yang juga tokoh masyarakat Kubar, Ismail Thomas, secara resmi dianugerahi penghargaan bergengsi Anugerah Naga Sasra oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Award Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI).

​Penghargaan ini menjadi bukti nyata atas dedikasi dan kontribusi berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem budaya lokal di Bumi Purai Ngeriman.

​Apresiasi terhadap langkah pelestarian ini turut ditegaskan oleh Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar, Waluyo Dwi Atmojo Setiobroto. Menurutnya, merawat benda bersejarah atau tosan aji memiliki esensi yang sangat mendalam, yakni menjaga nilai tak berwujud (tangible & intangible value) agar tidak tergerus zaman.

​"Ketika pusaka dilestarikan, yang sesungguhnya dijaga bukan hanya bendanya, melainkan ingatan kolektif, jati diri, dan akar budaya bangsa agar tidak hilang ditelan zaman," ujar Waluyo mengingatkan pentingnya kolaborasi seluruh pihak.

​Tim penilai dari Kementerian Kebudayaan RI dan SNKI menetapkan bahwa Anugerah Naga Sasra hanya diberikan kepada figur yang memberikan dampak masif terhadap ruang ekspresi kebudayaan. Ismail Thomas dinilai memenuhi berbagai kriteria penting, antara lain, konsisten memfasilitasi para pelaku seni, budayawan, dan pelestari tradisi untuk terus berkarya.

Dan memberikan dukungan kuat melalui pengaruh institusional dan gagasan strategis yang berpihak pada adat daerah, serta berhasil menggerakkan kepedulian masyarakat untuk aktif merawat tradisi lokal.

Kemudian mendukung kesuksesan berbagai agenda kebudayaan besar yang mampu menggerakkan roda ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

​Saat dikonfirmasi mengenai penghargaan ini, Ismail Thomas menyampaikan rasa syukur sekaligus menegaskan bahwa kebudayaan merupakan kompas utama bagi arah masa depan generasi muda.

​"Budaya adalah kemudi sebuah peradaban. Jika kita membiarkan Mandau dan tradisi leluhur kita punah, kita sedang menghapus jejak sejarah kita sendiri di masa depan," tegas Ismail Thomas, Minggu (24/5/2026).

​Menyikapi tantangan modernisasi dan minimnya minat generasi muda terhadap seni pembuatan Mandau—mulai dari teknik menempa besi hingga seni ukir—Ismail Thomas telah menyiapkan program taktis yang sinergis dengan fasilitas daerah.

​Rencana aksi tersebut meliputi, membangun wadah representatif bagi para pande besi (penempa), pengrajin sarung (kumpang), hingga pembuat hulu (gagang) Mandau agar dapat bekerja secara terpadu. Dan memanfaatkan ruang publik di bawah enam Lamin yang berada di kawasan Taman Budaya Sendawar (TBS) sebagai pusat kegiatan (basecamp) utama.

Selain itu menyelenggarakan program pelatihan dan bimbingan teknis secara rutin guna meregenerasi keahlian pembuatan Mandau kepada pemuda di Kutai Barat.

​Melalui momentum penghargaan ini, diharapkan sinergi antara tokoh masyarakat, komunitas budaya, dan program pelestarian daerah dapat semakin solid demi memastikan kekayaan adat Kutai Barat tetap lestari menembus waktu.