KOMINFOKUBAR- JAKARTA. Komitmen dalam menjaga kelestarian adat, tradisi, dan warisan leluhur di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Mantan Bupati Kutai Barat yang juga tokoh masyarakat Kubar, Ismail Thomas, secara resmi dianugerahi penghargaan bergengsi Anugerah Naga Sasra oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Award Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI).
Penghargaan ini menjadi bukti
nyata atas dedikasi dan kontribusi berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem
budaya lokal di Bumi Purai Ngeriman.
Apresiasi terhadap langkah
pelestarian ini turut ditegaskan oleh Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang
Sendawar, Waluyo Dwi Atmojo Setiobroto. Menurutnya, merawat benda bersejarah
atau tosan aji memiliki esensi yang sangat mendalam, yakni menjaga nilai tak
berwujud (tangible & intangible value) agar tidak tergerus zaman.
"Ketika pusaka
dilestarikan, yang sesungguhnya dijaga bukan hanya bendanya, melainkan ingatan
kolektif, jati diri, dan akar budaya bangsa agar tidak hilang ditelan
zaman," ujar Waluyo mengingatkan pentingnya kolaborasi seluruh pihak.
Tim penilai dari Kementerian
Kebudayaan RI dan SNKI menetapkan bahwa Anugerah Naga Sasra hanya diberikan
kepada figur yang memberikan dampak masif terhadap ruang ekspresi kebudayaan.
Ismail Thomas dinilai memenuhi berbagai kriteria penting, antara lain,
konsisten memfasilitasi para pelaku seni, budayawan, dan pelestari tradisi
untuk terus berkarya.
Dan memberikan dukungan kuat
melalui pengaruh institusional dan gagasan strategis yang berpihak pada adat
daerah, serta berhasil menggerakkan kepedulian masyarakat untuk aktif merawat
tradisi lokal.
Kemudian mendukung kesuksesan
berbagai agenda kebudayaan besar yang mampu menggerakkan roda ekonomi dan
sosial kemasyarakatan.
Saat dikonfirmasi mengenai
penghargaan ini, Ismail Thomas menyampaikan rasa syukur sekaligus menegaskan
bahwa kebudayaan merupakan kompas utama bagi arah masa depan generasi muda.
"Budaya adalah kemudi
sebuah peradaban. Jika kita membiarkan Mandau dan tradisi leluhur kita punah,
kita sedang menghapus jejak sejarah kita sendiri di masa depan," tegas Ismail
Thomas, Minggu (24/5/2026).
Menyikapi tantangan modernisasi
dan minimnya minat generasi muda terhadap seni pembuatan Mandau—mulai dari
teknik menempa besi hingga seni ukir—Ismail Thomas telah menyiapkan program
taktis yang sinergis dengan fasilitas daerah.
Rencana aksi tersebut meliputi,
membangun wadah representatif bagi para pande besi (penempa), pengrajin sarung
(kumpang), hingga pembuat hulu (gagang) Mandau agar dapat bekerja secara
terpadu. Dan memanfaatkan ruang publik di bawah enam Lamin yang berada di
kawasan Taman Budaya Sendawar (TBS) sebagai pusat kegiatan (basecamp) utama.
Selain itu menyelenggarakan
program pelatihan dan bimbingan teknis secara rutin guna meregenerasi keahlian
pembuatan Mandau kepada pemuda di Kutai Barat.
Melalui momentum penghargaan
ini, diharapkan sinergi antara tokoh masyarakat, komunitas budaya, dan program
pelestarian daerah dapat semakin solid demi memastikan kekayaan adat Kutai
Barat tetap lestari menembus waktu.